Bittersweet Seventeen


Why with the word “Bittersweet”? It is because the bitter and the sweet moments that I have been through at the age of seventeen are equally important to create this wonderful story.

My seventeen has been an important period of my journey to realize a life that I want to live. I started to make real steps to make my dreams come true. It was not easy since I understand this concept— if we have a belief, God will always test us to see how strong it is.

Perjalanan yang ga mudah tapi punya banyak warna. Awalnya cuman memberanikan diri melangkah walaupun ga tau jenis jalan kaya apa yang bakal terhampar nanti. Tapi yang jelas aku tahu adalah fakta bahwa jalannya ga akan pernah mudah.

Oktober 2018, aku memberanikan diri ikut tes TOPIK (Test of Proficiency in Korean) yang pada saat itu untuk pertama kalinya diadain di UPI. Padahal bahasa koreaku masih basic banget bersumber dari drama, lagu, dan beberapa buku tentang basic Korean. 

Februari 2019, pendaftaran SNMPTN dibuka dan aku harus memutuskan kemana aku akan membawa diri ini. Saat itu aku punya peringkat yang bagus di sekolah dan banyak pihak expect aku masuk PTN termasuk keluargaku. Saat itu aku masih bingung sama apa yang sebenernya aku pengen. Tapi, ada sesuatu hal terjadi yang bikin aku  tersadar bahwa sebenernya hidup yang aku pengen itu bukan dengan jalan masuk PTN tanpa tes dengan jurusan sains. Jadi, aku memutuskan untuk mengambil SNMPTN dengan jurusan yang aku mau dan ada di prodi IPS yang mana itu cross jurusan dan jelas-jelas peluangku kecil in other words mustahil aja bisa pass. So, aku ga expect banyak dari SNMPTN karena itu juga bukan tujuan utama aku. Jadi, ketika tau hasilnya aku ditolak sama HI Unpad hahahaha, reaksiku really flat karena aku udah memperkirakan kalau hal itu bakal terjadi. I might seemed fine but actually itu bukan hal mudah buat aku, mengingat bagaimana harapan orang tua pada saat itu. Mereka berharap anaknya bisa cepat sukses dengan masuk perguruan tinggi ternama. It was a big deal for me. If I can say I took a big risk for something in the future which is still vague. That's why pada saat itu hari-hariku dihiasi oleh banyak critics and questions dari berbagai pihak yang ga jarang menghakimi keputusanku sebagai suatu kesalahan besar padahal they don't know the real story behind it. And actually I felt so chaos that tine and want to just find a peaceful place. 
Also, to be honest, aku juga ga ikutan segala macam test masuk PTN/PTS di Indonesia. Jadi, saat orang-orang sibuk UTBK aka SBMPTN aku nyiapin untuk tes IELTS. 
Banyak yang nanya kaya gini:
“Neu, kok ga ikutan UTBK sih?”
“Ikutan aja atuh buat pegangan.”
“Sayang loh kamu SNMPTN ga diambil, terus UTBK juga ga ikut”
Dan masih banyak lagi…. Tapi karena aku juga ga punya intention buat ngambil UTBK, ngapain aku cape-cape mikir dan belajar kalo aku ga niat kuliah di sini. Mending waktuku aku invest ke hal yang emang ada korelasinya sama future interntion aku. 

April 2019, ini adalah cerita lanjutan dari cerita SNMPTN. Aku pergi ke Saudi Arabia yang niatnya buat umrah sendiri. Ini tuh sebenernya aku pengen meditasi dari hiruk pikuk dunia transisi dari SMA ke perkuliahan. Tanpa didampingi keluarga atau temen dan tanpa ikut manasik, super mendadak lah pokoknya. Perjalanan ini sebenernya kaya sebuah miracle buat aku Berasal dari keresahan aku atas keputusan yang telah aku ambil adalah a right choice or not. Jadi, aku coba reach out ke YME. Dan yaa this is just happen… Dan tujuan utamaku untuk menenangkan diri sangat tercapai. Alhamdulillah balik ke tanah air dengan jiwa yang lebih ringan aja gitu rasanya hahahaha…

Juni 2019, aku ikut preparation IELTS di The British Institute Dago. Awalnya aku berencana ikut TOEFL iBT dan aku juga udah banyak beli practice book untuk TOEFL iBT. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi mataku suka ga kuat lama-lama liat monitor jadi aku mutusin untuk ngambil tes IELTS Academic paper based test. Aku ga kenal banget sama IELTS karena setau aku tes ini tuh susah jadi nyari taunya aja udah agak mager. Setelah aku coba PDKT sama si IELTS ini, ternyata jenis-jenis soalnya beda banget sama soal TOEFL yang selama ini aku pelajari. Dengan ikut kelas preparation selama 3 minggu aku harap aku bisa dapet better insight terhadap test IELTS. Yang membuatku sedih adalah fakta bahwa aku merasa cukup percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggrisku eh ternyata aku terlalu kepedean guys heuheuheu. Soal IELTS ternyata ga semudah itu untuk seorang Tineu pada saat itu. Saat ada evaluation test hasilnya ternyata kemampuan bahasa inggrisku ga begitu bagus dan jauh banget dari skor yang aku target. Rasanya bagai dihantam meteor:’).. satu-satunya kemampuan yang cukup aku banggakan eh tapi ternyata aku belum cukup untuk dibanggakan.

Juli 2019, aku ikutan tes IELTS prediction dan kemampuan inggrisku pun masih belum meningkat signifikan. Kisaran skor Reading dan Listening ku masih di angka 5, padahal targetnya 7. Dasar aku:’)…  Resah dong aku pada saat itu sementara target aku ngambil tes IELTS di awal bulan Agustus. TINGGAL SEBULAN CUY!! Aku mikir, bisa ga ya? Naikin 2 angka di waktu sesingkat itu. Sempet hopeless tapi aku memutuskan bikin agenda belajar yang cukup padat dan menjenuhkan wkwkkw.  Masa ini I fight so hard lah intinya sampe ngerasa enek bgt bgt bgt gila sama soal-soal IELTS. 

Agustus 2019, aku tes IELTS di British Council. Dan bulan ini pun adalah bulan aku mempersiapkan dokumen untuk pengajuan beasiswa ke Korea Selatan. Everybody be like “LOH KOK TIBA-TIBA KE KOREA? KENAPA MILIH KOREA?” jawabannya akan aku bahas tuntas suatu saat nanti ya hahaha tunggu saja.. Banyak cobaan buat daftar beasiswa ke negeri gingseng ini tuh, subhanallah bgt deh pokonya. Tapi, untungnya setengah dari dokumen yang harus aku susun berhasil selesai di bulan ini. Hasi IELTS ku pun keluar di akhir bulan ini dan BOOM!! Overall it hit the target hahaha.. walaupun masih ada beberapa yang below the target tapi yaudahlah ya aku sangat bersyukur banget dengan hasil yang aku dapet. Hari itu aku senyum-senyum sendiri jingkrak-jingkrak ga jelas sampe bapaku nanya "kenapa deh bahagia banget kayanya?" Ya jelass dong ya kerja kerasku terbayar sudah:')

September 2019, bulan ini aku struggle sama personal statement dan study plan yang tak kunjung beres. 2 berkas yang bikin otakku rasanya jungkir balik *hahaha lebay ya guys tapi serius deh nulis ini tuh ah pokonya undescribable:’). Pada akhirnya, dengan segenap kekuatan aku berhasil menyelesaikan mereka berdua. Dan aku harus lanjut ngurusin dokumen sisanya. Singkat cerita semua dokumenku beres dan aku ngirim berkas ke kedubes Korea. Daaaan penantian penuh drama pun dimulai.

Oktober 2019, nunggu telfon dari kedubes Korea yang menyatakan kalau aku lulus tahap seleksi dokumen tuh kaya nunggu ibu-ibu buat siap-siap pergi ke kondangan. You know what I mean lah ya resah gelisah, tapi ga bisa ngapa-ngapain:’). Udah mau akhir oktober tapi ga ada terus. Udah optimis gagal. Tapi, tanggal 18 Oktober sekitar pukul 20.00 tanganku kaya tiba-tiba pengen buka email. Dan pas aku buka ada email dari Korean Embassy yang secepat kilat aku buka dan baca tulisan "Congratulations! We're pleased to inform you that you have passed the document selection for 2020 KGSP for Undergraduate Degree" di kampungku jam 8 tuh udah sepi dan saat baca email tadi, aku auto teriak ampe mamah dan bapa kaget. Tangaku gemeter, semaleman senyum-senyum sendiri sampe ga bisa tidur hahahaha.. Saking hepinya ga bisa dilukiskan walaupun baru lulus tahap dokumen hahahaha. Terlampau terharu karena kerja kerasku sedikit demi sedikit terbayar. Walaupun aku gatau bagaimana kelanjutan dari kisah ini, I want to appreaciate myself for coming this far. Dan di akhir bulan ini aku dijadwalkan untuk mengikuti seleksi selanjutnya di kedubes Korea di Jakarta Selatan. So excited to see what the future holds for me. Bulan oktober ini bener-bener banyak kejutan. Penutup yang manis usiaku yang ke tujuh belas. Dan aku harap akan ada opening yang ga kalah indah untuk usia ke delapan belasku.

So, hey Tineu! Let's start a new journey! This would be more exciting and more challenging.


Aku berharap di umur delapan belas tahunku, aku akan mengalami lebih banyak hal menakjubkan dan mendapatkan lebih banyak surprise-surprise kehidupan yang membuat aku kehilangan 1001 kata. I wish I could be a better human being, have more dreams, and have more wonderful story to be shared. I wish I could speak louder than before, I wish I could tell my story to more people and I wish I could listen to a lot more voices out there. Most importantly, I wish I could encourage lots of people to dream big and step up for a better life.


Comments

Popular posts from this blog

Cerita 2020 GKS/KGSP-U

Guide to GKS/KGSP-U

부산 생활